Skip to main content

Posts

Nikmat Berkah Diantara Bulan Rajab dan Ramadhan (puasa hari ke-14)

Sebelum memasuki bulan ramadhan, umat muslim melaksanakan ibadah puasa sunnah di bulan Rajab. Kedua bulan ini mengandung nikmat berkah dari Allah SWT.  Dalam sebuah riwayat, ada hadist yang menyebutkan bahwa bulan Rajab memiliki keistimewaan yang derajatnya hampir sama dengan bulan Ramadhan. Berpuasa di bulan Rajab, memiliki keutamaan khusus bagi umat muslim yang menjalankannya. Riwayat al-Thabarani dari Sa’id bin Rasyid mengatakan, “ Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia seperti berpuasa setahun, bila berpuasa 7 hari, maka ditutuplah pintu-pintu neraka jahanam dan bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya .” BACA JUGA: Amien Versus Luhut: Tontonan “Politik Opera Sabun”   Pada malam Mi’raj, ketika Rasullullah SAW melihat sungai yang airnya lebih manis dari madu dan baunya lebih harum dari minyak wangi, Rasul langsung bertanya kepada malaikat Jibril AS, “ Wahai Jibril untuk ...

Indonesia Bubar 2030, Selamat Tinggal Parpol Gerindra...

Pidato politik Prabowo Subianto yang menyebutkan bahwa Indonesia akan bubar tahun 2030, menuai kehebohan publik. Sejumlah politisi tertawa terbahak-bahak. Rakyat pun mencemooh sang mantan jenderal ini. Lho memang kenapa? Ya, jelas saja mereka tertawa dan mencemooh, karena bahan referensi pidatonya berasal dari novel fiksi 'Ghost Fleet' yang ditulis Peter Warren Singer dan August Cole yang terbit tahun 2015 lalu. Singer adalah penulis ahli strategi dari New America Foundation. Sedangkan, Cole merupakan analis yang kerap mengeksplorasi masa depan dari sebuah konflik. Tak jelas apa alasan Prabowo memakai referensi novel fiksi dalam pidatonya. Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Rakyat kini semakin tahu kualitas dan kapabilitas seorang Prabowo yang selalu dielu-elukan oleh kader parpol Gerindra. BACA JUGA: La Nyalla dan Enam Cacat Politik Partai Gerindra Sadarkah Prabowo bahwa isi pidatonya benar-benar telah mempermalukan dirinya di hadapan rakyat sekaligus menj...

Amien Versus Luhut: Tontonan “Politik Opera Sabun”

Perdebatan sengit antara Amien Rais dan Luhut Binsar Pandjaitan yang diekspos sejumlah media massa, menarik perhatian publik dan menjadi viral di masyarakat. Dua tokoh yang sama-sama dikenal memiliki andil bagi republik ini, semakin membuat rakyat bertanya-tanya, ada apa dengan moral manusia Indonesia? Rakyat yang selama ini adem-ayem saja di tengah polemik politik jelang pilpres 2019, disuguhkan tontonan ‘opera sabun’ yang sangat memalukan. Sungguh! Hampir semua politisi dan pejabat negara ini terjebak dalam pergulatan politik yang menjijikkan. BACA JUGA :  Amien Versus Luhut: Tontonan “Politik Opera Sabun” Sebelumnya, Amien Rais mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menyebut program bagi-bagi sertifikat yang dilakukan Jokowi merupakan suatu pembohongan. “Ini pengibulan, waspada bagi-bagi sertifikat, bagi tanah sekian hektar, tetapi ketika 74 persen negeri ini dimiliki kelompok tertentu seolah dibiarkan. Ini apa-apaan?” kata Amien, Minggu (18/3).  BACA JUGA...

Antara Golput dan Calon Tunggal di Pilpres 2019, Sebuah Otokritik Parpol

Gaung kencang pemberitaan sejumlah media massa yang menyebutkan Jokowi berpeluang besar menjadi calon tunggal di pilpres 2019, menuai komentar dari beberapa politisi partai oposisi. Pernyataan yang tampak bernada sinis dari beberapa kalangan politisi parpol, wajar-wajar saja dan terbilang tidak menyalahi UU, selama argumen yang disampaikan tidak bersifat mendiskreditkan Jokowi.  Dalam pandangan saya, semestinya parpol tidak perlu tergesa-gesa dalam mengomentari isu calon tunggal di pilpres 2019. Mengapa? Karena proses pencalonan capres dan cawapres 2019 masih lama dan setiap parpol masih punya waktu untuk melakukan konsolidasi dan koalisi untuk menentukan ‘petarungnya’ dalam menghadapi Jokowi. Pertanyaannya ialah mengapa parpol pendukung pemerintah sulit mendapatkan orang yang tepat untuk dijadikan capres menyaingi Jokowi, sehingga akhirnya mereka mengusung Jokowi? Hal yang sama juga terjadi pada parpol koalisi yang tidak mempunyai figur yang pas untuk ‘diduelkan’ dengan Jok...

Jokowi Calon Tunggal? Indonesia Krisis Capres dan Kegagalan Kaderisasi Parpol

Sejumlah analis politik memprediksi bahwa kemungkinan besar Jokowi akan menjadi calon tunggal di pilpres 2019 mendatang. Sah-sah saja setiap analis menyampaikan pendapatnya soal suksesi kepemimpinan nasional. Bukan tanpa alasan mereka bicara tentang calon tunggal, tentu ada argumen dan tolak ukur yang valid serta ilmiah.  Bahkan, dalam sejumlah survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei independen, elektabilitas Jokowi dilaporkan masih tinggi dan tak tertandingi. Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto pun terseok-seok mengejar elektabilitas Jokowi. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan bahwa Presiden Jokowi adalah calon terkuat dalam pilpers 2019. Buktinya, hasil survey LSI menyebutkan bahwa sebanyak 70 persen rakyat puas dengan kinerja Jokowi.  Sampai saat ini, hanya ada tiga nama yang beredar yang disebut-sebut bisa menyaingi Jokowi, mereka ialah Gatot Nurmantyo, Prabowo Subianto dan Agus Harimurti Yudhoyono. Namun, seperti sudah di...

Filosofi Politik Dibalik Latihan Tinju Presiden Jokowi

Melalui video blog (vlog) yang diunggahnya ke YouTube, Presiden Jokowi menunjukkan dirinya sedang berlatih tinju. Dalam vlognya itu, Jokowi juga mengenalkan pelatih tinjunya, Abed. Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi mengungkapkan alasannya berlatih tinju. Ia mengaku ingin menjaga kebugaran. Olahraga joging, bersepeda dan memanah dipilihnya, karena katanya, cepat mengeluarkan keringat. “Setiap hari ketat mengikuti jadwal yang serius-serius terus. Kalau kita lupa olahraga, kesehatan kita bisa drop," ujar Jokowi di Alun-alun Lamongan, Jawa Timur, Kamis, 8 Maret 2018 lalu. Latihan tinju yang dilakukan Jokowi yang kabarnya sudah berjalan empat bulan, menarik perhatian publik dan menjadi viral di sosial media. Sejumlah pihak menilai, latihan tinju yang dilakukan mantan Gubernur DKI ini, ada kaitannya dengan suhu politik yang semakin memanas menjelang pemilihan presiden 2019 mendatang. Pertanyaan menariknya ialah benarkah latihan tinju yang dilakoni Presiden Jokowi, terkait den...

Timur Tengah dan Diplomasi Provokatif Trump

Memasuki bulan ketiga di tahun 2018 ini, konflik global mulai nampak secara perlahan. Sejumlah negara Islam di kawasan Timur Tengah mulai terlibat perang dingin antarsesama mereka. Kebijakan politik Amerika Serikat (AS) yang didukung Israel, menjadi salah satu pemicu munculnya konflik global dan konfrontasi antarsesama negara Islam. Pemicu konflik dunia ini berawal dari adanya pengakuan secara sepihak Presiden AS, Donald Trump terhadap status Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Pada tanggal 6 Desember 2017 lalu, Presiden Trump, tiba-tiba mengumumkan keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Jerusalem. Pengakuan Trump terhadap Yerusalem ini merupakan diplomasi provokatif pertama dalam sejarah kepresidenan AS. Langkah Trump pun  ditolak sejumlah negara di Timur Tengah, Uni Eropa dan beberapa negara NATO. Sebanyak 128 negara menentang keputusan Trump dan mendesak agar dia menarik pengakuannya atas Yerusalem seb...